Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Sebaik baik Manusia yang Membawa Manfaat
Berdakwah di Tengah “HUNUSAN” Senjata Suku Meno
Akan tetapi, seketika lelaki kelahiran Aipaya, Sumbawa, 5 November 1980, ini berusaha tetap tenang dengan kembali berpasrah kepada Allah Ta’ala. Tiba-tiba Allah berkehendak lain. Rombongan suku itu menunjukkan i’tikad simpatik seraya berkata, “Mereka ini orang-orang baik, bapak haji silahkan lewat,” ucap kepala sukunya.
Mereka menganggap ”Bapak haji” setelah mengetahui Syakir mengenakan kopiah dan jubah putih. Ini menjadi pelajaran awal bagi Syakir, bahwa bantuan Allah pasti datang pada hambanya manakala berserah diri secara total dalam berdakwah untuk menolong agama Allah
Angkat Motor
Suatu hari, Syakir melakukan perjalanan dakwah dengan menggunakan motor. Tapi sayang motor “Crypton” yang ditumpanginya dalam berdakwah ke sebuah kampung bernama Poumako macet, persis di tengah hutan lebat. Bahkan sejak pengisian bensin di Polsek Miru, lampu motornya juga ikutan ngadat. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sebuah mobil yang sepanjang perjalanan ‘menguntitnya’ dari belakang menghampiri dan menawarinya tumpangan.
Sang pengemudi ‘kiriman’ Allah itu menawarkan bantuan dan menaikkan motornya ke atas mobil kijang, meski bukan jenis “open kap”. Atas kebaikan hati sang pengemudi, motor ini harus dipaksa naik ke mobil dalam kondisi pintu belakang terbuka hingga rela mengantarnya ke Pesantren Hidayatullah yang berjarak sekira 30 KM dari Kota Timika.
Padahal sebelumnya, Syakir sempat berprasangka buruk pada mobil yang menguntitnya tersebut, jangan-jangan mereka orang jahat sengaja memata-matainya dalam kegiatan dakwahnya. Seiring perjalanan waktu, ia masih bingung dengan pengemudi mobil baik hati itu. Selama hampir 12 tahun malang melintang sebagai da’i dan ujung tombak lembaga Hidayatullah di pedalaman Timika, ia masih belum bisa bertemu kembali. Bahkan masyarakat Papua mengaku tak pernah melihatnya.
Tugas Dakwah
Berdakwah di bawah bayang-bayang ancaman malaria merupakan kesan pertama yang dialami Syakir ketika pertama kali menjejakkan kakinya di tanah Timika, Papua. Awalnya ia cukup terkejt dengan kesan bahwa belum resmi menjadi orang Papua bila belum ‘disuntik’ oleh nyamuk malaria.
Sejak tamat dari bangku SMA Syakir telah kepincut dengan Hidayatullah setelah mendapatkan pencerahan dari salah seorang pengajar yang juga seorang da’i Hidayatullah. Rentetan riwayatnya ini menjadi pondasi dan bangunan yang mendarah-daging dalam jiwanya. Belum lagi setelah mendapat tempaan spirit berkesniambungan selama 4 tahun di Sekolah Tinggi Agama Islam Luqmanul Hakim (STAIL) Surabaya.
Setelah tamat dari STAIL, Syakir langsung mendapat tugas dakwah bersama delapan orang da’i lainnya. Empat orang ke Balikpapan dan empat lainnya ke tanah Papua yang salah seorang diantaranya adalah Syakir. Sesampainya di Timika, dia langsung bergabung dalam barisan muda da’i perintis Hidayatullah. Di masanya, da’i menjadi ujung tombak perjuangan dakwah hingga ke pelosok Timika. Awalnya, bayang-bayang malaria menjadi satu-satunya tantangan yang diperhitungkan.Kini tantangan jauh lebih berap harus dihadapinya. Hutan belantara, jalanan terjal, anak panah akibat konflik suku-suku pribumi, babi hutan dan lalatnya, serta binatang melata lainnya menjadi bunga rampai dan suka-duka indahnya berdakwah di bumi Amungsa dan Kamoro.
Entahlah yang jelas dakwah telah menjadikannya selalu selamat dari setiap kesulitan demi kesuitan. Bahkan dakwah telah menyelamatkannya dari tajamnya hunusan senjata suku pribumi yang dikenal tak pandang bulu terhadap orang asing. Sejak itu Syakir merasakan dengan segenap kesadaran bahwa Allah benar-benar dekat. Apa pun bisa berubah seketika jika Allah berehendak. Termasuk nyawanya yang sudah di ujung senjata Meno itu.
Benarlah kiranya kata Allah dalam al-Quran Surat Muhammad [47]: 7, “In Tansurullaha yansurkum, wayutsabbit Aqdamakum” (Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu).*/Abu Ilmia
daitangguh
Belajar Wakaf dari Universitas Al Azhar
Melejitkan Dimensi Dasar Perubahan
Cahaya Al Quran buat Rumah Kita
Kalau begitu, jelas sekali betapa penting arti rumah itu bagi manusia. Awalnya rumah memang tempat berteduh agar orang tidak basah kalau ada hujan dan kalau siang tidak kepanasan. Lebih dari itu rumah merupakan tempat keluarga, bapak ibu anak-anak berada dalam kesatuan yang dibingkai dengan kasih sayang. Rumah bukan sekedar tempat berteduh, tapi sebagai tempat belajar hidup bagi anak, tampat menerima tamu, bahkan lebih dari itu rumah bisa dijadikan tempat beribadah kepada Allah.
Diriwayatkan dari Ibnu Majah, Rasulullah bersabda: “Zayyinu makanatikum bish-shalati waqiraatil qur’an.” (Hiasilah rumahmu dengan shalat dan bacaan Al-Qur’an). Rasulullah yang mulia sangat menghargai rumah sehingga rumah perlu dihias agar indah. Hiasan terbaik bagi rumah, kata Rasulullah tidak lain adalah shalat dan bacaan Al-Qur’an.
Kenapa shalat? Karena shalat adalah tiang agama. Jadi dalam keadaan modern bagaimanapun shalat masih sangat diperlukan sebagai pilar utama bagi orang yang ingin tetap bertakwa kepada Allah. Karena shalat tidak bisa diganti dengan meditasi atau termenung memusatkan hati. Shalat harus tetap seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam.
Rumah yang dijadikan tempat shalat akan berfungsi dan punya nilai tambah sebagai tempat ibadah. Dilihat dari sudut duniawi mungkin ada yang bilang tak seberapa berarti. Tapi sesungguhnya baik dari sudut duniawi maupun ukhrowi rumah yang selalu dihiasi dengan shalat akan menjadi pertemuan antara hamba dengan Rabbinya. Kedamaian dengan Sang Khaliq yang dikembangkan dari inti shalat akan melahirkan kedamaian dengan keluarga, para tetangga dan manusia-manusia lainnya.
Belumlah cukup keindahan rumah itu kalau tidak dilengkapi dengan bacaan Al-Qur’an. Artinya: “Barangsiapa berkehendak berbicara dengan Allah, maka bacalah Al-Qur’an.” (Al-Hadits). Orang yang senang membaca Al-Qur’an berarti senang bertemu dengan Allah. Apalagi jika dilengkapi dengan kesucian, terbebas dari hadats kecil dan hadats besar, menghadap kiblat, membaca Al-Qur’an dengan tartil, adalah orang yang selalu beruntung.
Kenapa? Dengan membaca Al-Qur’an, lisan orang yang membaca Al-Qur’an akan melahirkan ‘mulut’ yang mulia dan kalimat yang keluar akan indah. Ketika membaca Al-Qur’an disertai dengan kesadaran bahwa ia adalah hamba Allah, otomatis rumah yang di dalamnya selalu terdengar kalimat suci Al-Qur’an akan menjadi rumah yang menjadi tempat turunnya rahmat Allah.
Apalagi saat anak membaca Al-Qur’an, ibu dan ayah mendengarkan sambil mengharap turunnya Rahmat dan hidayah dari Allah. Sebaliknya, ketika ayah membaca Al-Qur’an, ibu dan anaknya mendengarkan sambil berharap apa yang didengarkan adalah kalimat yang membawa pada keselamatan dunia akhirat.
Keluarga yang selalu menikmati bacaan Al-Qur’an akan menjadi keluarga yang “Sakinah”, keluarga yang damai lahir batin serta selalu menomersatukan ajaran Allah dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassallam.
Akan lebih bermakna lagi kalau keluarga itu mengerti akan arti dan makna Al-Qur’an dan kemudian mengamalkannya.
Al-Qur’an adalah resep kehidupan yang dirancang Allah untuk menjamin kesejahteraan, kebahagiaan dan keselamatan manusia. Dengan Al-Qur’an rumah kita akan menjadi “Rumah Cahaya.” Rumah damai tanpa kekerasan dan tanpa kata-kata kasar, karena semua penghuninya mengamalkan ajaran Al-Qur’an.
Dari uraian di atas, betapa pentingnya setiap Muslim menjaga harkat rumahnya. Jika rumah bisa kita jadikan tempat berlindung, tentu kita punya tugas untuk memperindah dan menghiasi rumah kita.
Marilah kita hias rumah kita dengan ‘bacaan Al-Qur’an” dan shalat, setelah itu barulah hiasan-hiasan yang lain. Dan semoga Allah berkenan menurunkan cahayanya ke tengah keluarga kita.*
Oleh : D. Zawawi Imron
Bersama Memberdayakan Ummat
Melestarikan Tradisi Ilmu
Allah, Sesuai Sangkaan Kita
Berburu Kemuliaan
Menjadi Mulia dengan Ilmu
Menjadi Mulia dengan Ilmu - Ilmu berperan sangat penting dalam menjadikan kita mulia atau tidak. Ilmu adalah media terpenting dalam usaha kita meraih hidup mulia di dunia dan akhirat. Untuk itu, Islam sangat kuat dalam memotivasi kita agar tekun dalam mencari ilmu. Dalam Surat An-Nahl [20]: 78 ada pesan hendaknya kita menuntut ilmu sejak kita hidup di dunia ini sampai kematian datang menjemput. Usaha meraih ilmu harus dikerjakan terus-menerus tanpa henti.
Zakat untuk Menyiapkan Kader Bangsa
Cara Melatih Perilaku sejak Anak Usia Dini
Perintah dan larangan tidak akan menjadi masalah bagi anak, jika hal itu sudah terbangun dalam dirinya sejak ia masih kecil.
Da’i Membangun Negeri
Menuai Hikmah dari Seorang Syukur
Ibadah yang Berdimensi Perubahan
Sejatinya, ibadah itu adalah inti dari perubahan. Penggerak perubahan selalu ada pada sosok-sosok yang senantiasa luar biasa kualitas ibadahnya. Pernyataan tersebut dapat dibuktikan dengan melihat sejarah para Nabi dan Rasul yang Allah jabarkan di dalam Al-Qur’an. Bahkan, secara spesifik, fakta akan hal tersebut juga terpapar dengan sangat gamblang pada sejarah penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih. Seorang pemuda yang memimpin pasukan dengan kekuatan ilmu, taktik dan strategi serta kedisiplinan beribadah yang sangat luar biasa.
Suatu riwayat menyebutkan, sejak akil baligh Al-Fatih tidak pernah absen sholat berjama’ah. Bahkan tidak pernah semalam pun, tidak bangun sholat tahajjud. Jadi, pantas jika prestasi Muhammad Al-Fatih dalam membawa perubahan umat dan peradaban yang sungguh sangat luar biasa. Dengan kata lain, ibadah adalah thoriqat, metode atau manhaj mutlak bagi siapa pun yang menghendaki suatu perubahan. Itulah jalan para Nabi dan Rasul, sahabat dan ulama terdahulu.
Orientasi dan Kehadiran Allah
Tentu kita bertanya, mengapa ibadah yang dilakukan oleh para Nabi dan Rasul, sahabat dan ulama terdahulu mampu melahirkan suatu perubahan besar? Hal itu tidak lain dan tidak bukan karena ibadah yang mereka lakukan benar-benar berorientasi hanya kepada Allah. Kemudian ada suatu kesadaran bahwa dalam setiap ibadah yang mereka lakukan senantiasa ada kehadiran Allah Ta’ala. Akibatnya, selain menimbulkan kekhusyu’an yang stabil, ibadah tidak seakan lagi menjadi satu kewajiban. Melainkan telah berubah menjadi suatu kebutuhan. Tidak beribadah dengan baik sama halnya dengan tidak makan bagi fisik manusia.
Di sinilah terjawab alasan di balik ibadah Rasulullah yang sangat luar biasa. Beliau mampu sholat malam hingga bengkak kedua kakinya. Dan, ketika ditanya oleh sang istri, beliau justru menjawab dengan singkat, “Tidakkah aku pantas menjadi hamba-Nya yang bersyukur.” Jadi, dengan ibadah yang diorientasikan
hanya kepada Allah (Liqaa Rabbih) akan menjadikan seorang hamba tidak lagi merasa dipaksa atau diperintah untuk bersyukur kepada-Nya. Tetapi sangat butuh untuk terus bersyukur kepada-Nya.
Kala syukur sudah menjadi kebutuhan, maka ibadah benar-benar akan menjadi suatu kemutlakan dalam hidup seorang Muslim, hingga kala mereka berkarya, maka karyanya akan mendunia bahkan menembus zaman.
Itulah yang ada pada diri Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Ibn Sina, Fakhrudin Al-Razi dan lain sebagainya. Jasad mereka telah tiada, tetapi buah tangan mereka (karyanya) tetap menemani setiap hembusan nafas
anak zaman, bahkan mungkin hinga akhir zaman.
Standar Hidupnya adalah Al-Qur’an.
Mereka yang memiliki spirit ibadah dengan orientasi bersyukur kepada-Nya, sudah pasti mereka ‘akrab’ dengan Al-Qur’an. “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan” (QS. 18: 1).
Ada rasa syukur luar biasa terhadap Al-Qur’an, sehingga tidak mungkin mereka yang memiliki mental syukur yang luar biasa tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai basis standar dalam kehidupannya. Dan, mereka tidak membaca Al-Qur’an, melainkan untuk menyempurnakan ilmu dan pengamalan, sehingga terus menerus
bahagia dalam ketaatan hanya kepada Allah.
Pantas jika Nabi Zakariya berpesan kepada putranya Yahya untuk benarbenar berpegang teguh kepada Kitab Allah. “Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh” (QS. 19: 12). Artinya, bagi umat Islam, berpegang teguh kepada Al-Qur’an itu sangat penting. Oleh karena itu, mereka yang
memiliki spirit ibadah yang kuat adalah orang-orang yang dalam hidupnya tidak pernah lepas dari Al-Qur’an. Baik dalam pengertian membacanya, lebih-lebih mengamalkannya.
Sajadah Hidupnya adalah Dakwah
Ilallah Mereka yang beribadah dengan orientasi syukur kepada Allah. Kemudian menjadikan Al-Qur’an sebagai basis atau standar hidupnya, sudah pasti tidak akan melewatkan peluang emas dari-Nya berupa tawaran menggiurkan yang tiada taranya, yakni dakwah ilallah. “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal sholeh, dan berkata: “Sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. 41: 33).
Dakwah menjadi sajadah panjang hidupnya. Orang yang bagus ibadahnya, kuat bacaan Qur’annya dan hidup memang benar-benar di atas landasan Al-Qur’an tidak mungkin berkata sia-sia dan tidak mungkin mengabaikan dakwah. Karena kesempurnaan ibadah ada pada dakwah. Dengan demikian maka, ibadah yang berdimensi perubahan adalah ibadah yang mendorong seorang Muslim untuk cinta dan rela berkorban dalam dakwah. Karena kesempurnaan manusia itu ada pada berjalannya dua fungsi sekaligus. Yakni fungsi sebagai Abdullah (QS. 51: 56) dan Khalifatullah (QS. 2: 30).
Berbagilah, Karena Kita Bersaudara
Raih Kemuliaan dengan Bertakwa
Menikmati Iman
sendirinya, tapi atas kehendak Allah yang Maha Kuasa. Dengan begitu, kita manusia hadir ke dunia ini tidak lain adalah anugrah dari Allah. Hidup, umur, detak jantung desir darah, dan potensi untuk bergerak merupakan karunia dari Allah.


























